Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Screiben Lernen

Blog EntryMar 31, '12 11:51 PM
for everyone
All the roads that we have to walk along are winding, and all the lights that leads us there are blinding..

Hm.. Abis baca status orang yang terpampang jelas di fesbuk beberapa hari lalu.. Entah menyiratkan kegalauan kah atw memang sedang tidak memiliki semangat untuk bangkit dari keterpurukan. Bertahan dalam sisa-sisa semangat karena habis ditinggalkan seseorang.. Karena sebelumnya memang Ia bercerita, bahwa ia break up. Ckckck

Hm.. Saya cuma bisa tersenyum.. Dan make a reflection.. Apakah saya pernah juga dalam posisi orang itu, dan bergalau-galau dengan mengatakan bahwa jalan yang kita lalui itu sulit, dan buta.. Tidak akan pernah ada cahaya..

tapi setelah itu saya pun hujamkan keyakinan bahwa saya tidak pernah punya keadaan karena sesuatu telah meninggalkan.
Apapun yang dicintai, apapun yang dikagumi, tak pernah saya posisikan berlebihan. Karena tak ingin akhirnya adalah kekecewaan and of course! Kegalauan yang menurut saya tak pernah punya arti baik buat diri pribadi.

Kalo saya mah yakin, bahwa tiap takdir yang ditorehkan Dia di Lauh Mahfudz, adalah yang terbaik untuk saya. Even those asked u to be more and more patient.

Pun juga karena saya selalu meyakini diri, bahwa hanya cinta Dia yang mendominasi. Selalu Dia Yang membersamai, sehingga saya pun tak pernah merasa sendiri. Agar tak ada kekecewaan, put ur trust on Him. Karena abadinya, sejatinya, hanya Dialah yang bisa ditaruh kepercayaan besar. Yang pastinya, tak kan pernah memberikan kekecewaan.
Harusnya juga sih, syapapun kita, when we decide to choose something, we have to spare a room to put the impossible possibility. Yap, agar tak banyak kecewa yang hadir, pun kita, juga harus memberikan ruang ketidakmungkinan dari setiap harapan yang hadir. Cinta, cita, mimpi. Anything.. :)
Biar tidak ada winding, tidak juga blinding lights. :)

Beside,
Jangan terlalu mencintai. Sewajarnya saja. Hingga ketika menemukan setitik noda di sana, kau tak lantas kecewa bahkan membencinya. :)

Blog EntryMar 28, '12 9:38 AM
for everyone
Apa maksud peluang bila ternyata memberikan saran untuk menolak?
Apa maksud hati tergerak bila jarak jauh benar-benar menjadi palang pembatas?
Apa daya susu tetap menjadi putih saat nila sudah meng-ungu sebelanga?

Kenapa? (˘_˘")"

Blog EntryFeb 12, '12 8:23 AM
for everyone
Burung camar, menyapa teduh bola mata…
senyumnya…
indah…
dan sejenak hanya ada debar…
yang membuat hatiku melemah.
bukankah hati ini selalu saja seperti itu..
mungkinkah ada sebuah cahaya di balik gelap itu…
melibas luka yang telah lama menganga…
sebab cinta..
sebab aku jatuh cinta…
pada seorang laki-laki yang menyapaku dengan tatapan setenang langit senja.
kemudian aku terpenjara sendiri dalam ruang-ruang pikiranku…
memaknaimu bukan hal yang mudah…
sebab tak ada satu kitabpun yang mampu menceritakan tentang hatimu…
debar itu…
selalu saja berdebar tiap kali kau singgah dalam pikiranku
ingin kubunuh debar itu, sebab aku lelah…
namun itu percuma saja…
aku jatuh cinta padamu.
laki-laki bermata langit senja

Blog EntryFeb 12, '12 8:21 AM
for everyone
Lihatlah!
Langit pagi seperti langit senja,
menuturkan potongan-potongan ceritanya pada sang waktu
Indah, namun melankolis…
Seperti hadirnya dalam rindu-rindu yang tak tampak…
Apakah ini adalah takdir?
Yang mempertemukan kita dalam rima yang sama..
lalu kemudian aku jatuh cinta,
pada sosoknya yang sederhana…
menikmatinya dalam diamnya yang membelengguku…
sebab tak satupun mampu kucitrakan tentang dia…
lalu… apakah ini adalah takdir…?
sebab aku menyimpannya lama dalam kitab-kitabku…
menuliskannya dalam kata,
sebab tak terhitung berapa tangis untuknya…
aku mencintaimu…
hiduplah denganku!
ketika waktu menuakan kita, aku tetap sama
mencintaimu, seperti hari ini aku mencintaimu,
tak kurang atau lebih… dan tak peduli kau tak tampak tampan seperti hari ini.
aku hanya ingin menatap senja bersamamu,
menghirup aroma hujan di beranda sambil menceritakan tentang sebuah kisah
tentang kita..
lihatlah!
langit pagi seperti langit senja,
menuturkan tentang pias matamu…

Blog EntryFeb 12, '12 8:16 AM
for everyone

Aku hanya belum bisa melipat jarak,
yang membentengi keakuanku…
hanya saja di tiap kali aku mulai memaknai hadirmu…
aku terus saja berperang dalam pikiranku,
terus berperang, sebab diam itu tak bermakna apa-apa.
membelenggu ragu, senyatanya itu menyiksa,
memasungku semakin dalam dengan jarak antara aku dan kau…
kukira cinta dengan malu itu berkawan,
namun aku salah, cinta tak berkawan dengan malu…
sebab hadirmu mengalahkan malu itu…
sebab diammu mematahkan malu itu…
namun kini, aku lelah..
mencintaimu dalam diam yang memasungku menjadi tak bernyawa…
semoga saja lelah ini hanya sementara..
sementara aku menunggu potongan cerita milikmu untuku
kuharap kau mengerti, ini sebuah kata sederhana…
yang diam-diam kutuju untukmu..

Blog EntryDec 18, '11 6:54 AM
for everyone
Wikipedia: "I know everything"!
Google: "But I have everything"!
Facebook: "So what?? I know everybody"!
Internet : "Hey,, without me, you all are norhing.."!
Electricity : "Silent! Who's the Boss now?!"
Benjamin Franklin : "Ehem..ehem.. Who discovered Electricity??"
Allah SWT : " I created all of you..."

!\^o^/!! Nah looohh... *Speechless...

Blog EntryOct 16, '11 12:53 PM
for everyone
Padamu yang Allah pilihkan dalam hidupku..
Ingin ku beri tahu padamu.. Aku hidup dan besar dari keluarga bahagia.. Orang tua yang begitu sempurna.. Dengan cinta yang begitu membuncah..
Aku dibesarkan dengan limpahan kasih yang tak terhingga..
Maka, padamu ku katakan.. Saat Allah memilihmu dalam hidupku, maka saat itu aku berharap, kau pun sanggup melimpahkan cinta padaku.. Memperlakukanku dengan sayang yang begitu indah..
Padamu yang Allah pilihkan untukku.. Ketahuilah, aku hanya wanita biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku, aku bukanlah wanita sempurna, seperti yang mungkin kau harapkan.. Maka, ketika Dia memilihmu untukku, maka saat itu Dia ingin menyempurnakan kekuranganku dengan keberadaanmu, dan aku tahu. Kaupun bukanlah laki-laki yang sempurna.. Dan ku berharap ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan dirimu.. Karena kelak kita akan satu.. Aibmu adalah aibku, dan indahmu adalah indahku, kau dan aku akan menjadi ‘kita’..
Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, sejak kecil Allah telah menempa diriku dengan ilmu dan tarbiyah, membentukku menjadi wanita yang mencintai Rabbnya.. Maka ketika Dia memilihmu untukku, maka saat itu, Allah mengetahui bahwa kaupun telah menempa dirimu dengan ilmuNya.. Maka gandeng tanganku dalam mengibarkan panji-panji dakwah dalam hidup kita.. Itulah visi pernikahan kita.. hanya beribadah pada-Nya ta’ala..
Padamu yang Allah tetapkan sebagai nahkodaku.. Ingatlah.. Aku adalah mahluk-Nya dari tulang rusuk yang paling bengkok.. Ada kalanya aku akan begitu membuatmu marah.. Maka, ketahuilah.. Saat itu Dia menghendaki kau menasihatiku dengan hikmah, sungguh hatiku tetaplah wanita yang lemah pada kelembutan.. Namun jangan kau coba meluruskanku, karena aku akan patah.. Tapi jangan pula membiarkanku begitu saja, karena akan selamanya aku salah.. Namun tatap mataku, tersenyumlah.. Tenangkan aku dengan genggaman tanganmu.. Dan nasihati aku dengan bijak dan hikmah.. Niscaya, kau akan menemukanku tersungkur menangis di pangkuanmu.. Maka ketika itu, kau kembali memiliki hatiku..
Padamu yang Allah tetapkan sebagai atap hunianku.. Ketahuilah, ketika ijab atas namaku telah kau lontarkan.. Maka di mataku kau adalah yang terindah, kata-katamu adalah titah untukku, selama tak bermaksiat pada Allah, akan ku penuhi semua perintahmu.. Maka kalau kau berkenan ku meminta.. Jadilah hunian yang indah, yang kokoh, yang mampu membuatku dan anak-anak kita nyaman dan aman di dalamnya..
Padamu yang Allah pilih menjadi penopang hidupku.. Dalam istana kecil kita akan hadir buah hati-buah hati kita –insya’Allah-… Maka didiklah mereka menjadi generasi yang dirindukan JANNAH… Yang di pundaknya akan diisi dengan amanah-amanah dakwah, yang ruh dan jiwanya selalu merindukan jihad.. Yang darahnya mengalir darah syuhada.. Dan ku yakin dari tanganmu yang penuh berkah kau mampu membentuk mereka.. Dengan hatimu yang penuh cinta, kau mampu merengkuh hati mereka..Dan aku akan selalu jatuh cinta padamu..
Padamu yang Allah pilih sebagai imamku.. Ku memohon padamu.. Ridholah padaku, sungguh Ridhomu adalah Ridho Ilahi Rabbi.. Mudahkanlah jalanku ke Jannah-Nya..
Karena bagiku kau adalah kunci Jannahku..

-from oaseimani.com-

Blog EntryOct 15, '11 11:36 AM
for everyone

Hari ini setelah beberapa agenda yang dijalani tuk memenuhi aktivitas weekend, saya memilih untuk istirahat di rumah. Menyelonjorkan kaki yang terasa pegal setelah berjalan keliling pondok gede untuk 3 tempat yang berbeda. Full of tired, but it was fun!!
            Awalnya berencana setelah pulang adalah langsung tidur, tapi entah otak malah menggerakkan untuk duduk di sofa sambil menonton tivi. Eh, ternyata ada adik yang sedang menyetel film kesayangannya, ‘ Finding Nemo’.. tanpa protes untuk diganti ke kanal regular, aku pun ikut nonton bersama adik. Seiring durasi film, ada yang membuatku tertarik dengan adikku yang satu ini.. Ia hafal sekali beberapa dialog yang ada di film tersebut. Salah satunya adalah saat Dori (ikan yang menemani perjalanan ayah nemo mencari nemo), memberikan semangat kepada sang clown fish (I forget his name!) untuk terus berenang. “Keep Swimming”!!, she said. Dan kata-kata itulah yang melekat terus di benak adik hingga dia hafal. Hihihi..
Oh ya,, mungkin semua bertanya, lantas kenapa? Adikmu sudah besar kaaan?
Yup,, he is 18th for his old. But he is disleksian. Adikku ini penderita disleksia. Berbeda dengan empat adikku lainnya yang normal, kami dianugerahkan salah satu saudara kandung dengan kebutuhan khusus. Yaaa,, walau sebenarnya di kehidupan sehari-hari ummi pun juga memperlakukan fauzan (adikku), sama seperti lima saudara-saudarinya yang lain. Aku tidak tahu apakah dia dileksian, atau memang abnormal. Dari segi fisik memang sama dengan anak-anak normal lainnya. Tapi untuk kemampuan berpikir, dan tingkah lakunya sama persis dengan anak usia 4-5 tahun.
Mungkin, samapai sekarang menginjak usia 23 tahun, aku masih belum banyak mengerti cara menangani anak berkebutuhan khusus. Merespon, atau bahkan mendidik anak seperti ini, menumbuhkan kepercayaan diri, bahwa dia tetap anak yang special. Aku pun jadi ingat sama film “Taare Zameen Paar” (Film India yang dirilis tahun 2007), sebuah kisah tentang anak bernama Ishaan, yang mungkin juga sama seperti adik saya, namun sebenarnya lebih beruntung karena Ishaan masih bisa sekolah dan punya bakat seni. Ketidakmampuannya untuk menangkap pelajaran di sekolah yang memusingkan sang ibu, namun di sisi lain, bisa dilihat keajaiban-keajaiban dari bakat yang tersembunyi darinya. Ia memiliki ‘negeri ajaib’ yang penuh dengan warna dan binatang animasi. Bakat seni, meskipun tidak ada yang menyadari hal ini pada awalnya.
Nonton film ini jadi makin terharu, bikin leleh air mata. Karena aku punya yang real-nya di rumah. Yang setiap hari ketemu, yang tahu kebiasaan-kebiasaannya di rumah, yang juga suka ikut kesal kalo tiba-tiba melakukan hal aneh memalukan. *aku menyesal pernah seperti itu padanya L*. Pesan yang disampaikan oleh film ini juga memang menampar banget aku yang tidak menspesialkan keadaan adikku dari awal. Bahwa sebenarnya setiap anak itu adalah pahlawan. Selain itu, membantu kita melihat seorang anak dalam diri kita sendiri.
Kepahlawanan fauzan juga banyak (keluargaku) yang menyadarinya tidak dari awal. Yaa… walaupun porsi makanannya paling besar dan intensitasnya paling banyak di antara anggota keluarga yang lain, tapi dia yang paling tahu letak barang-barang yang ada di rumah. Sekecil apapun ukuran barangnya. Karena kalo ada anggota keluarga yang tidak menemukan barang yang dicari, langsung tanya fauzan. Fauzan juga yang paling mau ngurus anak ayam, unggas piaraan keluarga yang ada di kandang belakang, memberi makan, minum, bahkan yang paling tahu jumlah ayam atau bebek bertambah (karena ada yang menetas), atau berkurang (mati atau diambil orang). Fauzan juga yang berani jaga rumah sendirian saat semua berangkat untuk mengerjakan aktivitas masing-masing, bahkan rela tidur paling malam sebelum semua anggota keluarga pulang ke rumah, karena ia yang bertugas untuk mengunci pintu pagar depan. *Tidak pernah ada yang melakukannya selain dia. Terlihat respon antusiasnya saat diminta abi untuk mengunci pintu pagar. Berbeda dengan adik-adikku yang lain yang mungkin terlihat agak cemberut bila diminta Abi untuk kunci pintu pagar. Ia juga yang bertanya, mana adiknya, fathiyah, yang tak kunjung pulang, walau sudah pukul 10 malam. Fauzan juga yang paling tahu kondisi motorku, yang baru saa di servis tadi siang. “Kak, remnya pakem ya? Lampu belakangnya diganti ya?”, begitu tanyanya sepulang menyervis motor tadi..
Ha? Kok dia tahu ya? Bahkan aku saja baru tahu kalo lampu belakang motor itu hangus dan harus diganti karena dikasi tau mekaniknya. Tapi dia menyadarinya sebelum aku ternyata.., begitu batinku bilang.
Bahkaan, kalo di rumah tuh, tetangga 1 komplek lebih kenal dengan fauzan dibandingkan saya. Karena kalo saya memang jarang ada di rumah, apalagi sudah 4,5 tahun terakhir tinggalnya di Bandung.. *ngeles! :p
Dan yang paling mengagumkan dari seorang fauzan adalah, tak pernah aku lihat dia absen untuk pergi sholat jama’ah di masjid. Bahkan terkadang ia juga yang membangunkan kakak dan adik-adiknya yang lain, untuk bangun lebih awal di subuh hari, sebelum adzan berkumandang. Fauzaaaan.. T.T
Tidak ada manusia yang sempurna tak peduli apa posisi dia dalam masyarakat, setiap anak dengan kemampuan mereka adalah khusus dan berbakat dengan cara mereka sendiri.
Mungkin juga ini pesan Allah sang Muhaimin, untuk keluarga kami, menitipkan anak/ adik dengan kebutuhan khusus, berbeda dengan yang lainnya, untuk tetap mencurahkan kasih sayang, walau kadang suka bikin jengkel sekalipun. Karena aku yakin, salah satu yang bikin berkah urusan-urusan kami di dunia, yang aku rasakan keberkahan itu, adalah karena Allah menitipkan fauzan kepada kami, untuk dirawat, dibina, dan dididik, hingga pertanggungjawaban itu diminta olehNya di yaumil hisab. :’)

Blog EntrySep 2, '11 5:20 AM
for everyone
2 September 2011

Hari ini saya lagi asyik sibuk dengan dunia maya. Tidak selalu berkecimpung dengan para fesbukers si,, tapi lagi kecanduan baca-baca blog orang-orang yang menurut saya, mereka sukses mengukir petualangan hidup mereka hingga kancah dunia internasional.

saya ingin juga memiliki kapasitas dan kemampuan sama seperti mereka yang bisa melanjutkan studi ke negeri impian. Berbagi ilmu dengan muslim all the world, ikut merasakan bagaimana perjuangan sebagai muslim di negeri dengan Islamnya yang berjaya hanya saat penaklukkan Muhammad Alfatih atas Konstantinopel, mencari makanan khas Indonesia yang jarang ditemukan di negeri asing, atau... bersama pasangan (istri/ suami) mencoba menata hidup dan merencanakan perjalanan da'wah selama menjalankan studi di sana hingga pulang ke tanah air..

ahh,, mimpi itu masih melekat dalam memori..
masih ingin tetap terealisasi dalam dunia nyata..
Cita-cita yang sudah tertancap dalam hati sejak SD!! tapi masih belum terwujud pula hingga sekarang..

Awalnya S1, saya ingin sekali melanjutkan studi ke Jerman. Bermimpi bisa bertemu dengan Bapak Bj. Habibie di Berlin dan sharing banyak tentang ilmu.
mencoba membuka situs-situs tentang perjalanan kuliah ketika di Jerman.
Berikhtiar juga untuk terus menghubungi salah satu Institusi Bahasa Jerman yang memang terkenal di wilayah Jakarta.
Tapi ternyata mimpi S1 kuliah di Jerman pun tak kesampaian. Lantaran minim biaya dan masih minim informasi. Selain itu, tak banyak kawan, sahabat dan keluarga yang mendukung untuk studi di Luar Negeri lantaran usia masih belia..

'nanti pas di sana susah lho cari biaya hidupnya. living cost di sana kan mahal!' begitu kata salah satu kakak mentor saya bilang.

kriiiiiikkk,,, benar. Akhirnya saya urungkan niat untuk bisa studi di Negara Panser tersebut.


Tapi tak semudah itu harapan saya pupus. di tahun kedua, saya mulai meniti kembali bagaimana caranya bisa ambil S2 di Jerman. Ada kursus khusus bahasa Jerman di dekat tempat saya kuliah, Jatinangor. Mereka menjelaskan tentang asyiknya belajar bahasa Jerman, dan tips mudah untuk bisa tinggal di Jerman. Caranya adalah dengan program aupair selama satu tahun di Jerman dan belajar banyak tentang kebudayaan Jerman.

Syaratnya tidak cukup sulit. Hanya mampu berbahsa Jerman basic dengan disertakannya sertifikat A-1 untuk para pemula, memberikan data diri yang lengkap, surat untuk hostfam di Jerman, memiliki pengalaman organisasi, dan (kalo bisa) pernah berpengalaman mengasuh dan mengurus bayi, dan beberapa syarat yang menurut saya tidak akan menyulitkan.

                                                                                                      kubah Gedung Reichstag, Berlin



Akhirnya saya coba daftar kursus tsb. D.E.N.G.A.N U.A.N.G. S.E.N.D.I.R.I.
tapi baru saja berjalan satu minggu, kursus itu tidak dilanjukan. Bentrok dengan jadwal kuliah dan organisasi saya yang padet.
Yaaah, mau gak mau kurelakan saja uang cicilan kursus yang baru kubayar sepertiganya.

-sempat pupus keinginan itu-
========================================================
Tapi ketika ada tawaran beasiswa untuk para aktivis da'wah, yang akan membiayai fasilitas untuk belajar di tempat kursus tersebut, maka saya coba kembali untuk mendaftar.
Bedanya, program ini dikhususkan, dan ada seleksi untuk bisa mendapatkan kursus gratis. karena perjanjiannya adalah selain menjadi aupair membantu juga untuk aktivitas da'wah yang ada di negeri tersebut.

Kalian pasti tau apa yang mau saya ceritakan.

Yak! saya mencoba mendaftar kembali ke kursus tersebut. Mencoba menulis alasan, 'why they shoul hire me?' dan embel-embel tulisan lainnya..

Alhamdulillah saya lulus. 

setelah itu saya ikut lesnya, setelah itu saya ikut tes-tesnya.. Nilainya pun memuaskan. walau ada beberapa compang camping di sisi Preposition-nya.

tapi yang masih membuat saya ragu adalah, bagaimana kondisi saya nanti ketika di sana? kalo cuma menjadi aupair, khawatirnya saya tidak banyak mendapatkan ilmu science yang tadinya saya harapkan saya bisa juga nyambi ambil S2 di sana.

kembali lagi bergejolak hati, apakah jadi saya ambil program ini?
karena Euforia yang berkembang dalam mimpi dan jiwa adalah, bisa melanjutkan studi S2 di Jerman.

karena keraguan itu saya pun memutuskan untuk mencoba mendaftarkan sendiri ke salah satu perguruan tinggi yang ada di Jerman.

Bremen Internasional University tepat tujuan saya.
belajar dengan full berbahasa Jerman, walaupun sedikit-sedikit mereka juga akan berbahasa Inggris.

Saya nekat mencoba mendaftar sendiri, tapi dengan self-financial course of course!!
 saya lampirkan CV, application form, motivation Letter, dan recomendation letter from my Lecturerin (alhamdulilah dosen utama dalam skripsi kemaren, yang sudah profesor).

tanpa disangka-sangka memang, Bremen University accepted my resume!! unbelieveble!
saya sempat senang saat itu.. Tapi kembali membuat saya sedih, karena pendaftarannya hanya untuk kelas reguler yang tidak mengambil beasiswa. Karena tidak memiliki biaya untuk living cost dan tuition fee di sana, saya pun mengurungkan kembali niat saya untuk mengambil S2 di negeri orang. Negeri yang menjadi impian saya studi di sana!

Sempat berpikir untuk melanjutkan kembali kuliah saya di universitas di dalam negeri. namun nampaknya belum punya banyak gairah. karena dari dulu, fokusku adalah bisa mendapatkan beasiswa kuliah s2 di Jerman. bukan hanya regulernya saja.

khawatir. khawatiiiiiiir sekali.. jika nanti, di tahun-tahun berikutnyaa..
semangat untuk kuliah itu ada, tapi otak tak lagi sampai untuk bisa menimba ilmu.. :(

Surely,, i don't wanna stabing or dissapointing myself anymore..

Mimpi itu masih melekat kuat dalam memori.. tapi yang menjadi pertanyaan,, kapan di dalam dunia nyata bisa terealisasi..

Blog EntryAug 31, '11 11:41 PM
for everyone
Allahu Akbar... Allahu Akbar Allahu Akbar..
Laa ilaaha illallaahu wallallahu Akbar..
Allahu Akbar,,
Walillahilhamdu...

Gema Takbir berkumandang di seluruh penjuru masjid dan di sepanjang jalan raya..
tabuh genderang menyambut hari raya esok harinya selalu membuat merinding..
Rasa Senang, namun lebih mengusik rasa haru dan sedihku kali ini..

Haru,, karena Allah selalu menghadiahkan bulan baikNya untuk mereka yang bertaqwa, memberikan bonus- bonus bagi umat Rasulullah yang merindu dengan pahala-pahala kebaikan yang luar biasa di tiap tahun Ramadhan.

Sedih, karena ramadhan Ramadhan tahun ini benar-benar memberikan kesan Qur'an padaku yang tak rela kulpeaskan kepergiannya, namun tak kuasa saat ia bergegas pergi.. menyiapkan segala sesuatunya untuk kemasan 'hadiah' bagi umat muslim yang bertaqwa tahun depan.. Namun aku tak kan pernah tahu apakah dapat bertemunya kembali atau tidak.

Aku pun percaya, bahwa indahnya suasana di hari lebaran adalah buah dari berkahnya ramadhan yang mengiman dalam hati setiap umatnya. kebersihan hati yang dipupuk saat Ramadhan mulai menampakkan wajah baru dan enak dipandang ketika lebaran tiba..

yang kuinginkan adalah,,
momen lebaran,, dengan semboyannya "kembali suci di hari nan fitri", atau "mulai dari nol lagi' harusnya menjadi quote yang elegan untuk para umat untuk selalu membasahi ruhiyahnya dengan pribadi yang qur'ani.. momemn lebaranlah yang menjadi kesempatan untuk mempraktekkan akhlakul karimah..

*setelah melihat bagaimana perawakan kebanyakan manusia setelah Ramadhan,, kembali  dulu.. tak manis seperti mereka berada di Bulan Ramadhan.. :(

karena kita tahu bahwa sukses tidaknya ramadhan kita tahun ini adalah bagaimana kita berperilaku dan berakhlak di 11 bulan berikutnya..
Memperbanyak pula amalaan sholih pasca Ramadhan, harusnya sudah menjadi agenda wajib kita agar selalu dapat raih ridhoNya hingga akhirat merindukan kedatangan kita dan surga berebut memberikan undangan kepada kita masuk sebagai penghuninya..

amalan-amalan yang tak terlihat berat, *karena dapat dijalankan saat kita menjadi penghuni Ramadhan, harusnya juga tak menjadi berat untuk amalan kebaikan kita di bulan syawal dan 10 bulan lainnya..

-memperbanyak senyum, menebar salam, perbanyak salam, selalu berwajah ceria dan ramah, memperbanyak sedekah, mendahulukan orang lain dalam perkara non-ibadah, saling menasehati dalam kebaikan, memuliakan tamu, menjaga pandangan, tawadhu' dan tidak pamer kekayaan, selalu memperbanyak interaksi dengan Alqur'an dan ak pernah melupakan ibadah waajib serta sunnah-

Insya Allah,, dengan tetap menjalankan perkara-perkara tersebut,, tahun ini pun kita tetap menang..
hingga Ramadhan akan sudi menyambut kita di surga dari pintu Arrayan.
amiiiiin..

Yaa Mujiibassailiiin.. perkenankan do'a hamba,, agar tetap bisa bertemu dengan RamadhanMu tahun Depan..
Allahumma hallimna hifdzul kitaaabak,, Allahumma Sahhil umurona wa umuro waa lidaina wa umurol muslimiina fiddunya wal aakhirah..

ya Allah ridhoilah kami masuk dalam surgaMu, dan lindungilah kami dari siksa api neraka.


Blog EntryJul 8, '11 12:49 PM
for everyone
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
“Jazakillah ukhty, atas shalat Isya berjamaahnya tadi. Sangat terkesan sekali bagi saya.”


Seorang akhwat menerima SMS itu malam hari, di saat ia sedang berupaya memejamkan matanya. Ia bingung, apakah harus menjawab SMS ini ataukah membiarkannya. Karena terus terang, pengirim SMS itu adalah seorang ikhwan yang menjadi imam shalat Isya di kampus tadi. Kebetulan waktu itu, mereka hanya berdua, dan harus shalat Isya’ berjamaah.
Dalam hati ukhty itu bertanya-tanya. “Kenapa berkesan? Bukankah setiap shalat haruslah berkesan? Kenapa berkesan? Apakah ia tidak khusyuk dalam shalatnya? Ataukah karena aku makmumnya?” Akhirnya dengan berat hati akhwat itu membiarkan SMS itu tanpa balas.
Beberapa menit kemudian hape nya kembali berdering. Saat ini hanya misscall, dan bisa ditebak siapa yang misscall. Selain pulsa nelpon juga mahal, ikhwan itu ingin memberi isyarat, kenapa SMS-nya tidak dibalas. Si Akhwat tetap bersikukuh tidak menjawabnya, karena menurutnya si Ikhwan berlebihan dan tidak pada tempatnya. Akhirnya hape-nya kembali berbunyi, sebuah gambar bertanda Amplop nongol di layar hapenya. Dibuka dan dibacanya,
“Semoga ukhty diberi kenyamanan hati dan diberkahi Allah Ta’ala malam ini. Dan mudah-mudahan bisa shalat malam nanti. Selamat bobo dan mimpi yang indah. Dari saudaramu seperjuangan.”

Akhwat ini senyam senyum tak ada habisnya. Ia semakin tahu seberapa kualitas ikhwan ini. Ia jadi ragu apakah ia “Ikhwan ataukah Bakwan”. Menurutnya SMS semacam ini tidaklah perlu disampaikan. Meski terlihat menasehati dan baik-baik saja, tapi ia berpikir SMS semacam ini adalah sebentuk zina hati yang terselimuti dakwah yang sudah tidak pada tempatnya.


Saudaraiku ukhti fillah..,Mungkin saja Anti yang membaca tulisan ini pernah mengalaminya. Mendapatkan SMS dari sosok aktivitis dakwah, apakah ikhwan atau akhwat. Ataupun dari seorang laki biasa yang engkau kenal. Awalnya mungkin hanya saling bertanya tentang kepentingan dakwah atau diskusi belajar. Persiapan sebuah tabligh akbar, rencana rapat sekolah atau memilih ketua BEM di kampus, rencana rapat tahunan organisasi keislaman, membahas kurikulum TPA atau apalah kepentingannya. Namun ternyata rasanya enak juga bisa saling berkirim SMS alias SMS-an. Apalagi kalau ternyata obrolannya nyambung banget, si ikhwan tahu perasaan si akhwat dan si akhwat pun mesam mesem tak ada habisnya menjawab SMS dari si ikhwan. Kalau sudah seperti ini biasanya SMSnya bisa ngelantur kemana-mana.
Lama-lama SMSnya pun berubah dari sms dakwah menjadi sms Merah Jambu. Mulai berani bertanya:
“Ukhty lagi ngapain? Ukhty udah makan belum. Jaga Kesehatan loh ukh. Sekarang musim hujan.”
Eh, apa perlunya si ikhwan bertanya semacam itu? Emang penting? Ia menjadi sosok yang penuh perhatian. SMSnya menjadi ngalor-ngidul tak jelas apa maksudnya. Ironisnya, si akhwat justru terbuai. Ia takluk dengan senjata ikhwan gombal ini.


Si akhwat selalu menjawab SMS itu dengan jawaban-jawaban yang sama. “Ana lagi makan akh. Akhy udah maem belum…?” Yach, setali tiga uang dech ini namanya. Sama saja kualitasnya. Mereka sama-sama menikmati SMS-an itu. Kepentingan awal sebagai SMS koordinasi dakwah melenceng menjadi berbagi perhatian antara ikhwan dan akhwat. Hemm… apa ini namanya? Ikhwan apa bakwan, akhwat apa kawat?

Hal ini nampaknya harus diwaspadai. Jangan-jangan mereka telah menyemai benih, sebelum masa tanam. Jangan-jangan mereka telah menanam cinta, sebelum waktunya. Jangan-jangan pola saling SMS-an ini menjadi cara mereka untuk saling berkomunikasi bukan dalam arti sebenarnya.
Sungguh saudariku,,SMS itu melibatkan dua orang, pengirim dan penerima. Dan Setan terkutuk itu berbaris-baris diujung sinyal Indosat yang engkau gunakan sebagai kartu telponmu. Setan-setan itu mengubah dari warna hitam tulisan dari si pengirim menjadi“warna merah jambu” ketika sampai pada si penerima.
DImanapaun dan kapanpun, setan adalah musuh yang nyata bagi umat manusia. Maka hanya hati yang bersih saja yang mampu menepis bujukan sesatnya.
SMS PDKT-kah?



Ikhwan tentu saja memiliki niat saat mengirim SMS itu. Awalnya mungkin niatnya baik sebagai sebuah nasihat yang baik. Tapi karena setan memang sangat licik, akhirnya jurusnya mulai mempengaruhi si ikhwan. Selain itu juga karena lampu hijau yang ditunjukkan oleh si akhwat sendiri.
Oleh karena itu, kita harus mulai memperhatikan persoalan ini. Harus dibedakan manakah yang benar-benar SMS murni nasihat, ataukah semata hanya kedok saja. Mereka yang semata ingin memberi nasehat tidak akan berpanjang-panjang dalam SMS-an. Bila dianggap sudah cukup, maka tidak perlu dilebar-lebarkan. Bila dengan SMS 10 kata sudah cukup, kenapa harus memakai 20 kata? bukankah itu kemubaziran..??
Menjawab SMS secukupnya sesuai dengan yang dibutuhkan. Lagipula sebenarnya dalam hati kecil kita sebagai seorang ikhwan dan akhwat bisa dengan mudah mendeteksi apakah SMS kita sudah melenceng ataukah masih lurus-lurus saja. Kita adalah manusia dewasa yang sudah bisa membedakan mana yang baik-baik saja dan mana yang sudah berlebihan.
Bagi para akhwat sebaiknya tidak memberikan ruang yang lebar kepada para ikhwan. Bila SMS ikhwan sudah mulai tidak bener, maka lebih baik dicuekin saja. Tidak perlu dibalas dengan kata-kata pedas. Karena sekali dijawab, ikhwan akan merasa mendapatkan lampu hijau. Dan perlu diketahui, ikhwan sangat tahu bahwa akhwat suka sekali bila diperhatikan. Karena itu merupakan tabiat para wanita pada umumnya. Mereka suka diperhatikan..!! Jadi bagi ikhwan yang bermental bakwan mereka rela membeli pulsa isi ulang sebanyak mungkin dan dibela-belain mencari program SMS murah demi memberi perhatian ini.


Bagi para ikhwan, saya berharap Antum tetap menjadi sosok yang tangguh. Antum sangat mungkin menjadi pihak yang agresif. Tapi Antum juga sangat mungkin menjadi pihak yang dikejar. Hape Antum tiba-tiba berbunyi terus karena misscall orang tak dikenal sepuluh kali mungkin. Jangan Ge Er dulu, belum tentu itu dari akhwat. Boleh jadi dari nomer nyasar yang ingin menagih utang. Bila antum mendapat SMS yang ‘gimana gitu’ dari akhawat, sebaiknya dijawab dengan bijaksana dan secukupnya saja. Selain karena memang pulsa masih mahal, hal itu akan menjaga Muru’ah (harga diri) antum di depan Allah SWT.


Jadi, kalau memang antum jatuh cinta dan ingin pedekate, nyatakanlah terus terang, lebih sopan dan jantan bila antum menempuh jalur Ta’aruf, ajukan proposal itu kepada si akhwat jika antum benar-benar bermental seorang ikhwan, bukan Bakwan !Tidak dengan SMS an berlama-lama yang tidak jelas kepentingannya.

Afwan dan terimakasih..
Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Wassalam

Blog EntryJul 8, '11 12:46 PM
for everyone
Perempuan oh perempuan! Pengalaman batin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya, jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!

Itulah misalnya pengalaman batin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya, Umar seorang ulama, bahkan seorang mujahid. Namun, ia besar di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjaditrendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.

Namun, begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasinya. Ia pun bertaubat. Sejak itu, ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. “Aku takut pada neraka,” katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri.
la memulai perubahan besar itu dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras itu membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam waktu 2 tahun 5 bulan, tetapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulal’a’ Rasyidin. Maka, ia pun digelari Khalifah Rasyidin Kelima.

Akan tetapi, itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Namun, istrinya Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang, justru sang istrilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.

Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu-biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Namun, cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai. Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru.

Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, “Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini,” kata Umar. Cinta yang terbelah dan tersublimasi di antara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya, ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, “Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi, kemanakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, namun kemudian menjawab, “Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!”

Oleh :  Anis Matta

Blog EntryJul 8, '11 12:45 PM
for everyone

Perempuan oh perempuan! Pengalaman batin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya, jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!

 

Itulah misalnya pengalaman batin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya, Umar seorang ulama, bahkan seorang mujahid. Namun, ia besar di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.

 

Namun, begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasinya. Ia pun bertaubat. Sejak itu, ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. “Aku takut pada neraka,” katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri.

la memulai perubahan besar itu dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras itu membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam waktu 2 tahun 5 bulan, tetapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulal’a’ Rasyidin. Maka, ia pun digelari Khalifah Rasyidin Kelima.

 

Akan tetapi, itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Namun, istrinya Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang, justru sang istrilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.

 

Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu-biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Namun, cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai. Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru.

 

Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, “Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini,” kata Umar. Cinta yang terbelah dan tersublimasi di antara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya, ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.

Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, “Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi, kemanakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, namun kemudian menjawab, “Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!”

 

Oleh :  Anis Matta


Blog EntryJul 8, '11 12:36 PM
for everyone
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
“Jazakillah ukhty, atas shalat Isya berjamaahnya tadi. Sangat terkesan sekali bagi saya.”

Seorang akhwat menerima SMS itu malam hari, di saat ia sedang berupaya memejamkan matanya. Ia bingung, apakah harus menjawab SMS ini ataukah membiarkannya. Karena terus terang, pengirim SMS itu adalah seorang ikhwan yang menjadi imam shalat Isya di kampus tadi. Kebetulan waktu itu, mereka hanya berdua, dan harus shalat Isya’ berjamaah.
Dalam hati ukhty itu bertanya-tanya. “Kenapa berkesan? Bukankah setiap shalat haruslah berkesan? Kenapa berkesan? Apakah ia tidak khusyuk dalam shalatnya? Ataukah karena aku makmumnya?” Akhirnya dengan berat hati akhwat itu membiarkan SMS itu tanpa balas.
Beberapa menit kemudian hape nya kembali berdering. Saat ini hanya misscall,dan bisa ditebak siapa yang misscall. Selain pulsa nelpon juga mahal, ikhwan itu ingin memberi isyarat, kenapa SMS-nya tidak dibalas. Si Akhwat tetap bersikukuh tidak menjawabnya, karena menurutnya si Ikhwan berlebihan dan tidak pada tempatnya. Akhirnya hape-nya kembali berbunyi, sebuah gambar bertanda Amplop nongol di layar hapenya. Dibuka dan dibacanya,
“Semoga ukhty diberi kenyamanan hati dan diberkahi Allah Ta’ala malam ini. Dan mudah-mudahan bisa shalat malam nanti. Selamat bobo dan mimpi yang indah. Dari saudaramu seperjuangan.”

Akhwat ini senyam senyum tak ada habisnya. Ia semakin tahu seberapa kualitas ikhwan ini. Ia jadi ragu apakah ia “Ikhwan ataukah Bakwan”. Menurutnya SMS semacam ini tidaklah perlu disampaikan. Meski terlihat menasehati dan baik-baik saja, tapi ia berpikir SMS semacam ini adalah sebentuk zina hati yang terselimuti dakwah yang sudah tidak pada tempatnya.


Saudaraiku ukhti fillah..,Mungkin saja Anti yang membaca tulisan ini pernah mengalaminya. Mendapatkan SMS dari sosok aktivitis dakwah, apakah ikhwan atau akhwat. Ataupun dari seorang laki biasa yang engkau kenal. Awalnya mungkin hanya saling bertanya tentang kepentingan dakwah atau diskusi belajar. Persiapan sebuah tabligh akbar, rencana rapat sekolah atau memilih ketua BEM di kampus, rencana rapat tahunan organisasi keislaman, membahas kurikulum TPA atau apalah kepentingannya. Namun ternyata rasanya enak juga bisa saling berkirim SMS alias SMS-an. Apalagi kalau ternyata obrolannya nyambung banget, si ikhwan tahu perasaan si akhwat dan si akhwat pun mesam mesem tak ada habisnya menjawab SMS dari si ikhwan. Kalau sudah seperti ini biasanya SMSnya bisa ngelantur kemana-mana.
Lama-lama SMSnya pun berubah dari sms dakwah menjadi sms Merah Jambu. Mulai berani bertanya:
“Ukhty lagi ngapain? Ukhty udah makan belum. Jaga Kesehatan loh ukh. Sekarang musim hujan.”
Eh, apa perlunya si ikhwan bertanya semacam itu? Emang penting? Ia menjadi sosok yang penuh perhatian. SMSnya menjadi ngalor-ngidul tak jelas apa maksudnya. Ironisnya, si akhwat justru terbuai. Ia takluk dengan senjata ikhwan gombal ini.


Si akhwat selalu menjawab SMS itu dengan jawaban-jawaban yang sama. “Ana lagi makan akh. Akhy udah maem belum…?” Yach, setali tiga uang dech ini namanya. Sama saja kualitasnya. Mereka sama-sama menikmati SMS-an itu. Kepentingan awal sebagai SMS koordinasi dakwah melenceng menjadi berbagi perhatian antara ikhwan dan akhwat. Hemm… apa ini namanya? Ikhwan apa bakwan, akhwat apa kawat?

Hal ini nampaknya harus diwaspadai. Jangan-jangan mereka telah menyemai benih, sebelum masa tanam. Jangan-jangan mereka telah menanam cinta, sebelum waktunya. Jangan-jangan pola saling SMS-an ini menjadi cara mereka untuk saling berkomunikasi bukan dalam arti sebenarnya.
Sungguh saudariku,,SMS itu melibatkan dua orang, pengirim dan penerima. Dan Setan terkutuk itu berbaris-baris diujung sinyal Indosat yang engkau gunakan sebagai kartu telponmu. Setan-setan itu mengubah dari warna hitam tulisan dari si pengirim menjadi“warna merah jambu”ketika sampai pada si penerima.
DImanapaun dan kapanpun, setan adalah musuh yang nyata bagi umat manusia. Maka hanya hati yang bersih saja yang mampu menepis bujukan sesatnya.
SMS PDKT-kah?



Ikhwan tentu saja memiliki niat saat mengirim SMS itu. Awalnya mungkin niatnya baik sebagai sebuah nasihat yang baik. Tapi karena setan memang sangat licik, akhirnya jurusnya mulai mempengaruhi si ikhwan. Selain itu juga karena lampu hijau yang ditunjukkan oleh si akhwat sendiri.
Oleh karena itu, kita harus mulai memperhatikan persoalan ini. Harus dibedakan manakah yang benar-benar SMS murni nasihat, ataukah semata hanya kedok saja. Mereka yang semata ingin memberi nasehat tidak akan berpanjang-panjang dalam SMS-an. Bila dianggap sudah cukup, maka tidak perlu dilebar-lebarkan. Bila dengan SMS 10 kata sudah cukup, kenapa harus memakai 20 kata? bukankah itu kemubaziran..??
Menjawab SMS secukupnya sesuai dengan yang dibutuhkan. Lagipula sebenarnya dalam hati kecil kita sebagai seorang ikhwan dan akhwat bisa dengan mudah mendeteksi apakah SMS kita sudah melenceng ataukah masih lurus-lurus saja. Kita adalah manusia dewasa yang sudah bisa membedakan mana yang baik-baik saja dan mana yang sudah berlebihan.
Bagi para akhwat sebaiknya tidak memberikan ruang yang lebar kepada para ikhwan. Bila SMS ikhwan sudah mulai tidak bener, maka lebih baik dicuekin saja. Tidak perlu dibalas dengan kata-kata pedas. Karena sekali dijawab, ikhwan akan merasa mendapatkan lampu hijau. Dan perlu diketahui, ikhwan sangat tahu bahwa akhwat suka sekali bila diperhatikan. Karena itu merupakan tabiat para wanita pada umumnya. Mereka suka diperhatikan..!! Jadi bagi ikhwan yang bermental bakwan mereka rela membeli pulsa isi ulang sebanyak mungkin dan dibela-belain mencari program SMS murah demi memberi perhatian ini.


Bagi para ikhwan, saya berharap Antum tetap menjadi sosok yang tangguh. Antum sangat mungkin menjadi pihak yang agresif. Tapi Antum juga sangat mungkin menjadi pihak yang dikejar. Hape Antum tiba-tiba berbunyi terus karena misscallorang tak dikenal sepuluh kali mungkin. Jangan Ge Er dulu, belum tentu itu dari akhwat. Boleh jadi dari nomer nyasar yang ingin menagih utang. Bila antum mendapat SMS yang ‘gimana gitu’ dari akhawat, sebaiknya dijawab dengan bijaksana dan secukupnya saja. Selain karena memang pulsa masih mahal, hal itu akan menjaga Muru’ah (harga diri) antum di depan Allah SWT.


Jadi, kalau memang antum jatuh cinta dan ingin pedekate, nyatakanlah terus terang, lebih sopan dan jantan bila antum menempuh jalur Ta’aruf, ajukan proposal itu kepada si akhwat jika antum benar-benar bermental seorang ikhwan, bukan Bakwan !Tidak dengan SMS an berlama-lama yang tidak jelas kepentingannya.

Afwan dan terimakasih..
Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Wassalam

Blog EntryJul 8, '11 12:08 PM
for everyone
Up on the rooftop, I look to the sky, the sun's rays are beautiful,
I look up to the sky, and my whole body feels full of energy!

I'm living! Its so wonderful!
I just can't stop, so I'll give up trying to.

Good-bye to yesterday as it darkens out,
These feelings keep bubbling up to the top,
No matter how many times they revive, let the flowers bloom!
Memories are always a sweet escape,
But you must cut them off to live on to tomorrow,
And when blessings finally come your way,
spread your arms out wide!

The lovely, soft form has yet to reach your hand,
But if you close your eyes, you'll see good images.

I'm living! Its so wonderful!
I just can't stop, I wanna see what happened first!

Days of anger just go on and on to wherever,
Going back and forth between heaven and hell,
No matter how many times they revive, let the flowers bloom!

Run! Run! Until love is in your grasp!
If that makes you worry, turn to hope,
And when blessings finally come your way,
spread your arms out wide!

Good-bye to yesterday as it darkens out,
These feelings keep bubbling up to the top,
No matter how many times they revive, let the flowers bloom!
Memories are always a sweet escape,
But you must cut them off to live on to tomorrow,
And when blessings finally come your way, spread your arms out wide!

Spread your arms!
Raise both hands!

Blog EntryJun 27, '11 10:35 PM
for everyone

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

Di antara tanda kebahagiaan dan keberuntungan, tatkala ilmu seorang hamba bertambah, bertambah pulalah sikap tawadhu’ (rendah hati) dan kasih sayang yang dimilikinya; setiap kali bertambah amalnya, bertambah pula rasa takut dan waspada di dalam dirinya[1]; tatkala bertambah umurnya, berkuranglah ketamakannya terhadap dunia; tiap kali hartanya bertambah, kedermawanannya pun bertambah; setiap kali kedudukan dan martabatnya bertambah tinggi, maka bertambah pula kedekatannya dengan manusia, dirinya akan semakin memperhatikan kebutuhan mereka, dan merendahkan diri di hadapan mereka.

Di antara tanda kebinasaan seorang, tatkala ilmunya bertambah, bertambah pula kesombongan dan keangkuhannya; tiap kali amalnya bertambah, bertambahlah ‘ujub (bangga diri) dalam dirinya, semakin meremehkan orang lain, dan justru memandang baik dirinya; tatkala umurnya bertambah, ketamakannya terhadap dunia justru semakin bertambah; tiap kali hartanya bertambah, bertambah pula sifat kikir yang dimiliki; setiap kali kedudukan dan martabatnya bertambah, bertambah pula keangkuhan dan kecongkakannya.

Seluruh hal di atas merupakan cobaan dari Allah yang diperuntukkan kepada para hamba-Nya. Di antara mereka ada yang beruntung, sebagian yang lain justru celaka.

Demikian pula dengan kemuliaan, seperti kerajaan, kekuasaan, dan harta, semua adalah cobaan. Allah ta’ala berfirman,

فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ (٤٠)

“Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Rabb-ku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (QS. An Naml: 40).

Demikian pula kenikmatan, semua adalah cobaan dari-Nya sehingga akan nampak siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur (ingkar). Sebagaimana musibah juga cobaan dari-Nya, karena Dia menguji para hamba dengan berbagai nikmat dan musibah.

Allah ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (١٥)وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (١٦)

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dirinya dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu mempersempit rizkinya, maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” (QS. Al Fajr: 15-16).

Maksud dari ayat di atas, tidak setiap orang yang Aku lapangkan rizkinya dan Aku beri kesenangan duniawi, maka hal itu merupakan bentuk pemuliaan-Ku terhadapnya. Dan tidak setiap orang yang Aku persempit rizkinya dan Aku uji dengan kemiskinan, maka hal itu merupakan kehinaan baginya.

Waffaqaniyalahu wa iyyakum.

Diterjemahkan dari Fawaaidul Fawaaid hal. 403-404

Gedong Kuning, Yogyakarta, 23 Rabi’uts Tsani 1431.

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id



Blog EntryJun 5, '11 5:11 AM
for everyone
Ehem,, syapa yang masih bercengkrama dengan laptopnya ataw dengan internetnya hingga melupakan waktu sholat?D
ini sudah hampir 1 jam semenjak adzan waktu sholat ashar dikumandangkan untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya lho (u/ waktu sholat tgl 5 Juni 2011).
adakah yg masih asik dengan kegiatannya?dan  lupa bahkan tidak peduli panggilan dan seruan dari Allah untuk terus dekat denganNya?tidak menghiraukan tawaran besar dari Ilahiah untuk mereka yang selalu sholat tepat waktu?

atau mungkin tidak tau, seperti apa awal sholat itu?

Awal shalat ditandai dengan berkumandangnya azan, tetapi pasar, kantor, terminal serta tempat-tempat lain masih saja hiruk pikuk dipenuhi umat muslim. Mereka tidak bergegas memenuhi panggilan azan ini, bahkan ada juga yang melalaikan sholat lima waktu. Menunaikan shalat tepat waktu berarti melatih diri untuk disiplin. Bila kita mulai dari disiplin shalat, maka kita akan terbiasa melakukan disiplin-displin dalam kegiatan lainnya. Shalat tepat waktu bisa menjadi ukuran disiplin bagi seorang muslim.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda : “…Seandainya orang-orang mengetahui pahala azan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan shalat pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan jalan merangkak.” (HR. Bukhari).

Keutamaan shalat tepat waktu juga bisa menjadikan seseorang lembut hati dan dikaruniai kesehatan. Untuk Shalat Isya’ Nabi biasa mengerjakannya pada sebagian besar waktu malam. “Telah bersabda Rasulullah saw.”Sekiranya tidak memberatkan umatku, tentu aku suruh mereka mengundurkan isya hingga sepertiga atau seperdua malam.” (HR.Ahmad, Ibnu Majah,Tirmizi).

Pesan Khalifah Usman bin Affan ra:

“Orang-orang yang memelihara shalat lima waktu dan mengerjakannya tepat pada waktunya, maka Allah akan memuliakan orang itu dengan sembilan macam kemuliaan:

1. Dicintai Allah

2. Badannya senantiasa sehat

3. Dijaga oleh Malaikat

4. Diturunkan berkah untuk rumahnya

5. Mukanya akan kelihatan tanda orang yang shaleh

6. Allah akan melembutkan hatinya

7. Dapat melalui jembatan Shiratal Mustaqim layaknya seperti kilat

8. Akan diselamatkan dari api neraka

9. Allah akan menempatkannya ke dalam golongan orang-orang yang tidak takut dan tidak bersedih

#nah, sekarang syapa yg ingin terus dapat rahmat dan ni'mat besar dari Allah atas rajinnya kita sholat tepat waktu? cung!! ^0^//
semoga masing-masing dari kita bisa mengingatkan dan menginspirasi saudara muslim yang lainnya.. amiin

Blog EntryJun 1, '11 5:59 AM
for everyone
Assalamu’alaikum warah matullahi wabarakatuh..
Bismillahirrahmanirrahiim..
Saudaraku, sekarang saya mau berbiacara tentang PERCEPATAN AMAL.

Sering kali, dalam waktu 24 jam sehari percepatan diri kita mengukir prestasi amal saleh seringkali kalah dengan percepatan kita mengukri kelalaian. Berapa banyak sih waktu yang kita habiskan untuk beribadah, berdzikir, bertafakur, berpikir atau berdakwah bila dibandingkan dengan waktu kita untuk bersenda gurau, pesta pora, makan, tidur, melamun hingga sibuk mengejar kenikmatan dunia? 50:50? 30:70? Atau malah 10:90?
Dari yang sedikit pun bisa jadi tak cukup kuat pula kualitasnya. Padahal, ibarat emas, amal tak hanya cukup diukur dari banyak atau beratnya namun juga dari seberapa murni kualitas (karat)nya. Bagaimana jadinya coba bila sholat yang tak khusyuk, sedekah yang tak ikhlas, membaca qur’an yang tak rutin, wakaf yang riya’, senyum yang palsu, ketaatan yang terpaksa, terus saja bersandingan dengan iri yang dipupuk, dengki yang mengakar, marah yang membara, hasut yang meluas, takabur di hadapan para manusia saat berkumpul di dalam majelis, hingga ghibah yang rutin dan intensif? (asal tahu saja, biang ghibah itu ternyata bukan hanya di kalangan ammah, tapi juga para ikhwah). Apa tidak akan tekor bila kelak ditimbang berbandingan?

Manusia yang bangkrut di hari kiamat, jelas Rasulullah adalah mereka yang datang dengan sejumlah pahala kebaikan namun habis dipakai untuk menomboki dosa dan salah mereka. Lantas, bagaimana nasibnya mereka yang datang dengan amalan sedikit, tidak purna pula? Heuuuh… Na’udzubillahi min dzaalik..

Waktu, yang bergulir, memang tidak akan pernah datang kembali. Maka merugilah kita semua bila tak pandai memanfaatkan waktu dan mengelolanya agar setiap helaan nafas tak menjadi sia-sia. Allah berfiman:
..manusia adalah sosok yang merugi kecuali mereka yang beriman, beramal saleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran” (QS:103:3)
Ada beberapa upaa untuk membukukan amalan saleh kita, agar kita tak menjadi sosok merugi di yaumil akhir nanti. Pertama, amal saleh ini tentu harus dimunculkan secara berkualitas, murni laksana emas 24 karat, dan ini hanya bisa diperoleh dengan cara mengikhlaskannya semata-mata karena Allah. Dalam keadaan berat maupun ringan, miskin ataupun kaya, suka atau terpaksa, berpotensi dipuji atau dicaci manusia. Semua tak jadi masalah, karena toh landasan dasarnya “hanyalah” keinginan memperoleh ridho-Nya.
Kedua, amalan ini mestinya diupayakan berlangsung secara rutin, berkesinambungan, tak kenal kata lelah, bosa atau malas. Sekalipun kecil saja nampaknya dalam ukuran keseharian. Rasullah SAW saja menjelaskan:  
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara teratur (Kontinu) meskipun hanya sedikit (HR Bukhari). 
Oleh karena itu, jangan anggap enteng seratus dua ratus rupiah yang kita infaqkan pada kencleng masjid di dekat pasar setiap hari. Ataupun “sekedar” memaafkan semua kesalahan orang lain menjelang tidur. Kecil sih, tapi bila dilakukan secara tulus, ikhlas, dan rutin tentu menjadi besar nilainya di mata Allah.
Ketiga, jangan biarkan momen-momen keutamaan yang bisa menjadi ladang percepatan amal saleh lewat begitu saja. Sunnah-sunnah yang dianjurkan dan memiliki keutamaan tersebar di berbagai kesempatan. Di antaranya qiyamullail, sholat dhuha, shaum 3 hari di tengah bulan (ayyaumul Bidh), dzikir di pagi hari dan petang, bersedekah, silaturrahim hingga tilawah qur’an yang pada pembacaan setiap hurufnya Allah janjikan 10 kebaikan bagi diri manusia.
Itu masih di hari-hari biasa. Apalagi bila diukur pada satu momen istimewa , Ramadhan, yang memberi peluang percepatan amal saleh lebih besar dan lebih banyak lagi sesuai dengan janji Allah SWT akan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Memang, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita esok hari. Maka menyiapkan bekal amal saleh adalah upaya logis agar kita tidak terperosok menjadi sosok merugi, apalagi bangkrut, di masa ‘pensiun’ dari dunia nanti. Sesuai dengan sabda Nabi SAW,
“Sesungguhnya orang yang cerdas bukanlah orang yang banyak akalnya, tetapi orang yang sibuk mempersiapkan bekal akhiratnya”
Ayoo… semangat melakukan percepatan amal!! Jangan sampai, saat Malaikat Hafadzah membawa amalan kita –sebagai pemilik amal- ditampar wajahnya oleh setiap malaikat penjaga pintu langit, lantaran minim amalan-amalan yang membawa kita menuju syurgaNya sebab habis untuk menomboki dosa dan salah kita.
Kalau menyiapkan deposito demi pendidikan kita atau keluarga kita di masa depan saja kita bisa gigih betul, apalagi mengumpulkan deposito kebaikan demi kesejahteraan hidup yang nanti.


Blog EntryJun 1, '11 5:59 AM
for everyone
Assalamu’alaikum warah matullahi wabarakatuh..
Bismillahirrahmanirrahiim..
Saudaraku, sekarang saya mau berbiacara tentangPERCEPATAN AMAL.

Sering kali, dalam waktu 24 jam sehari percepatan diri kita mengukir prestasi amal saleh seringkali kalah dengan percepatan kita mengukri kelalaian. Berapa banyaksihwaktu yang kita habiskan untuk beribadah, berdzikir, bertafakur, berpikir atau berdakwah bila dibandingkan dengan waktu kita untuk bersenda gurau, pesta pora, makan, tidur, melamun hingga sibuk mengejar kenikmatan dunia? 50:50? 30:70? Atau malah 10:90?
Dari yang sedikit pun bisa jadi tak cukup kuat pula kualitasnya. Padahal, ibarat emas, amal tak hanya cukup diukur dari banyak atau beratnya namun juga dari seberapa murni kualitas (karat)nya. Bagaimana jadinyacoba bila sholat yang tak khusyuk, sedekah yang tak ikhlas, membaca qur’an yang tak rutin, wakaf yang riya’, senyum yang palsu, ketaatan yang terpaksa, terus saja bersandingan dengan iri yang dipupuk, dengki yang mengakar, marah yang membara, hasut yang meluas, takabur di hadapan para manusia saat berkumpul di dalam majelis, hingga ghibah yang rutin dan intensif? (asal tahu saja, biang ghibah itu ternyata bukan hanya di kalangan ammah, tapi juga para ikhwah). Apa tidak akan tekor bila kelak ditimbang berbandingan?

Manusia yang bangkrut di hari kiamat, jelas Rasulullah adalah mereka yang datang dengan sejumlah pahala kebaikan namun habis dipakai untuk menomboki dosa dan salah mereka. Lantas, bagaimana nasibnya mereka yang datang dengan amalan sedikit, tidak purna pula? Heuuuh…Na’udzubillahi min dzaalik..

Waktu, yang bergulir, memang tidak akan pernah datang kembali. Maka merugilah kita semua bila tak pandai memanfaatkan waktu dan mengelolanya agar setiap helaan nafas tak menjadi sia-sia. Allah berfiman:
..manusia adalah sosok yang merugi kecuali mereka yang beriman, beramal saleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran”(QS:103:3)
Ada beberapa upaa untuk membukukan amalan saleh kita, agar kita tak menjadi sosok merugi diyaumil akhir nanti.Pertama, amal saleh ini tentu harus dimunculkan secara berkualitas, murni laksana emas 24 karat, dan ini hanya bisa diperoleh dengan cara mengikhlaskannya semata-mata karena Allah. Dalam keadaan berat maupun ringan, miskin ataupun kaya, suka atau terpaksa, berpotensi dipuji atau dicaci manusia. Semua tak jadi masalah, karena toh landasan dasarnya “hanyalah” keinginan memperoleh ridho-Nya.
Kedua, amalan ini mestinya diupayakan berlangsung secara rutin, berkesinambungan, tak kenal kata lelah, bosa atau malas. Sekalipun kecil saja nampaknya dalam ukuran keseharian. Rasullah SAW saja menjelaskan: 
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara teratur (Kontinu) meskipun hanya sedikit(HR Bukhari). 
Oleh karena itu, jangan anggap enteng seratus dua ratus rupiah yang kita infaqkan pada kencleng masjid di dekat pasar setiap hari. Ataupun “sekedar” memaafkan semua kesalahan orang lain menjelang tidur. Kecilsih, tapi bila dilakukan secara tulus, ikhlas, dan rutin tentu menjadi besar nilainya di mata Allah.
Ketiga, jangan biarkan momen-momen keutamaan yang bisa menjadi ladang percepatan amal saleh lewat begitu saja. Sunnah-sunnah yang dianjurkan dan memiliki keutamaan tersebar di berbagai kesempatan. Di antaranya qiyamullail, sholat dhuha, shaum 3 hari di tengah bulan (ayyaumul Bidh), dzikir di pagi hari dan petang, bersedekah, silaturrahim hinggatilawah qur’an yang pada pembacaan setiap hurufnya Allah janjikan 10 kebaikan bagi diri manusia.
Itu masih di hari-hari biasa. Apalagi bila diukur pada satu momen istimewa , Ramadhan, yang memberi peluang percepatan amal saleh lebih besar dan lebih banyak lagi sesuai dengan janji Allah SWT akan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Memang, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita esok hari. Maka menyiapkan bekal amal saleh adalah upaya logis agar kita tidak terperosok menjadi sosok merugi, apalagi bangkrut, di masa ‘pensiun’ dari dunia nanti. Sesuai dengan sabda Nabi SAW,
“Sesungguhnya orang yang cerdas bukanlah orang yang banyak akalnya, tetapi orang yang sibuk mempersiapkan bekal akhiratnya”
Ayoo… semangat melakukan percepatan amal!! Jangan sampai, saat Malaikat Hafadzah membawa amalan kita –sebagai pemilik amal- ditampar wajahnya oleh setiap malaikat penjaga pintu langit, lantaran minim amalan-amalan yang membawa kita menuju syurgaNya sebab habis untuk menomboki dosa dan salah kita.
Kalau menyiapkan deposito demi pendidikan kita atau keluarga kita di masa depan saja kita bisa gigih betul, apalagi mengumpulkan deposito kebaikan demi kesejahteraan hidup yang nanti.


Pages:123